Kendaraan bermotor menyimpan berbagai potensi bahaya yang tidak hanya berasal dari kecelakaan lalu lintas semata. Salah satu ancaman yang tidak terduga dan kerap diabaikan justru datang dari barang fesyen di dalam lemari, yaitu syal panjang.
Tragedi Bersejarah Isadora Duncan
Kematian akibat syal di dalam mobil pertama kali menjadi fenomena hampir satu abad lalu pada tahun 1927. Penari asal Amerika Serikat, Isadora Duncan, tewas secara tragis di Prancis akibat kombinasi maut tersebut. Seperti ditulis oleh The New York Times, pada malam kejadian ia mengenakan syal sutra warna-warni berukuran sangat besar yang dililitkan di lehernya dengan bagian ujung menjuntai panjang.
Peristiwa bermula ketika ia berjalan-jalan di kawasan Nice, lalu menaiki mobil sewaan. Baik dirinya maupun pengemudi tidak menyadari bahwa salah satu ujung syal yang panjang tersebut menjuntai hingga keluar kendaraan. Bagian kain yang tergerai itu akhirnya tersangkut di roda belakang mobil dan terlilit begitu kuat, hingga menarik tubuh Duncan keluar dari kendaraan dan menyeretnya sejauh beberapa kaki. Pengemudi segera menghentikan mobil, namun nyawa sang penari sudah tidak tertolong. Tim medis yang tiba di lokasi menyatakan bahwa korban tewas seketika akibat pencekikan.
Insiden tersebut membuat kejadian serupa dikenal sebagai sindrom Isadora Duncan atau sindrom syal panjang. Kondisi ini umumnya melibatkan pencekikan tidak sengaja yang disertai cedera trauma pada laring dan trakea selaku saluran udara, serta potensi kerusakan pada arteri karotis yang merupakan jalur utama pasokan darah ke otak. Kerusakan pada jalur vital tersebut dapat merampas oksigen dari otak dan berujung pada kematian.
Risiko yang Masih Terjadi di Era Modern
Kematian akibat syal ternyata masih terjadi hingga saat ini, terutama ketika sarana transportasi yang digunakan terbuka tanpa pelindung penuh seperti kendaraan roda tiga atau mobil konvertibel. Tingginya frekuensi insiden syal di masa kini bahkan memicu sebuah penelitian di India yang secara khusus mengamati kasus kematian akibat syal pada kurun waktu 2013 hingga 2015 di sebuah pusat trauma tingkat 1. Selama hampir dua tahun penelitian berjalan, tercatat sebanyak 76 kasus cedera dan sekitar tiga orang di antaranya meninggal dunia akibat luka yang dialami.
Kasus serupa di luar India juga dialami oleh dua wanita yang mengalami luka parah akibat syal untuk acara khusus. Seorang wanita asal Dallas mengenakan gaun panjang lengkap dengan syal saat menghadiri acara pernikahan. Selepas acara, ia bersama teman-temannya menumpang mobil untuk pergi makan malam. Tanpa disadari, syal miliknya terjepit di pintu mobil dan menjuntai hingga terlilit pada ban kendaraan. Tarikan yang begitu kuat pada bagian leher tersebut meninggalkan luka bakar akibat gesekan yang cukup parah di area leher bawah dan bahunya.
Kisah tersebut dibagikan ulang oleh seorang wanita lain yang juga pernah mengalami insiden hampir serupa akibat fesyen. Ia mengungkapkan bahwa dirinya nyaris celaka saat mengenakan bagian syal dari gaun baru miliknya untuk menghadiri sebuah acara gala. Kain tersebut tersangkut di sabuk pengaman serta pintu kendaraan tumpuan daring, sebelum akhirnya tertarik oleh ban mobil dan berujung pada keharusan mendapat penanganan darurat di rumah sakit.
Kedua wanita tersebut tergolong beruntung karena hanya menderita luka bakar yang cukup dalam di bagian leher dan tidak mengalami cedera yang jauh lebih fatal seperti yang merenggut nyawa Isadora Duncan. Pengalaman ini memberikan pelajaran penting agar setiap orang lebih berhati-hati dan memperhatikan posisi kain syal yang dikenakan saat akan masuk ke dalam kendaraan.






