Pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat baru saja berakhir dengan catatan sebagai pemilu termahal dalam sejarah negara tersebut. Laporan Jalopnik menyebutkan bahwa CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, menjadi penyumbang dana politik terbesar dengan total pengeluaran mencapai 474 juta dolar AS atau sekitar Rp7,4 triliun untuk mendukung kampanye Partai Republik.
Pilihan Koleksi Mobil Mewah
Dana sebesar 474 juta dolar AS tersebut sebenarnya bisa digunakan untuk membeli ribuan mobil baru atau koleksi kendaraan paling bersejarah di dunia. Sebagai gambaran, Musk bisa saja membeli 6.423 unit mobil Chevrolet Corvette model dasar. Jika ia memiliki ambisi yang lebih besar, ia bisa memborong seluruh koleksi yang dilelang di Monterey Car Week pada Agustus lalu.
Menurut data RM Sotheby’s, total nilai lelang di acara tersebut mencapai 380 juta dolar AS. Dengan dana kampanye yang ia miliki, Musk bisa membeli seluruh 199 lot mobil yang dilelang, termasuk Ferrari Luce seharga 40 juta dolar AS, McLaren F1 GTR senilai 34,6 juta dolar AS, dan 1963 Corvette Grand Sport seharga 18,7 juta dolar AS, dengan sisa uang yang masih cukup untuk biaya transportasi dan pajak.
Bahkan, untuk dana yang ia habiskan khusus di Texas sebesar 200 juta dolar AS, Musk bisa membeli delapan mobil termahal yang pernah terjual dalam sejarah. Daftar ini mencakup Mercedes-Benz 300 SLR “Uhlenhaut Coupe” yang terjual 142 juta dolar AS pada 2022, serta berbagai model langka seperti Ferrari 250 GTO dan Shelby Cobra Daytona Coupe.
Potensi Dampak Sosial
Selain untuk hobi otomotif, dana sebesar 474 juta dolar AS tersebut sebenarnya bisa dialokasikan untuk membantu masyarakat Amerika. Mengingat utang kredit kendaraan di Amerika Serikat mencapai 1,7 triliun dolar AS, Musk bisa saja memberikan bantuan finansial bagi warga Texas yang kesulitan membayar cicilan mobil mereka.
Laporan tersebut juga menyarankan agar dana tersebut digunakan untuk memperbaiki infrastruktur yang lebih bermanfaat, seperti menyubsidi toko bahan makanan di lingkungan miskin, memperbaiki jaringan listrik Texas yang sering bermasalah, atau membangun lebih banyak stasiun pengisian daya kendaraan listrik di kompleks apartemen. Langkah-langkah ini dinilai akan memberikan dampak positif yang jauh lebih besar bagi citra Musk dibandingkan dengan mendanai iklan serangan politik.
Upaya politik yang dilakukan Musk dalam pemilu kali ini dinilai tidak membuahkan hasil, karena kandidat yang ia dukung di negara bagian penentu (swing states) mengalami kekalahan. Kini, muncul desakan agar para perwakilan terpilih memprioritaskan reformasi keuangan kampanye untuk membatasi pengaruh besar dari individu kaya terhadap proses politik di Amerika Serikat.







