Ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran di paddock MotoGP setelah Jack Miller mengungkapkan bahwa sebanyak 19 dari total 22 pebalap menolak mengikuti Grand Prix Qatar pekan depan. Situasi keamanan di kawasan tersebut menjadi alasan utama para pebalap menyatakan keberatan untuk datang ke Qatar, seperti dilaporkan kabaroto.com.
Faktor Keamanan dan Kekhawatiran Anggota Tim
Pebalap Pramac Yamaha tersebut menilai penyelenggaraan balapan di tengah konflik yang belum mereda perlu dipertimbangkan secara serius. Menurutnya, pihak penyelenggara belum memberikan jawaban yang memadai atas kekhawatiran mengenai keselamatan selama berada di Qatar.
“Saya tidak ingin pergi ke Qatar,” ujar Miller, seperti dikutip dari Grande Premio.
Miller menyebut mayoritas pebalap memiliki pandangan serupa dan telah berusaha menyampaikan sikap bersama kepada penyelenggara kejuaraan. Kekhawatiran tersebut mencakup keselamatan mekanik, insinyur, serta anggota tim lainnya yang harus melakukan perjalanan ke Qatar.
Tuntutan Jaminan dan Keputusan Yamaha
Miller menegaskan keberatan tersebut bukan ditujukan kepada Qatar sebagai negara tuan rumah, melainkan situasi regional yang dinilai belum stabil. Para pebalap telah meminta kepastian prosedur evakuasi, dukungan medis, hingga perlindungan asuransi, meski jaminan finansial dinilai belum cukup menjawab persoalan keselamatan.
Yamaha mengumumkan keputusan untuk tidak berpartisipasi dalam MotoGP Qatar karena pembatasan perjalanan perusahaan terkait situasi di Timur Tengah. Keputusan ini berlaku untuk tim Monster Energy Yamaha MotoGP maupun Prima Pramac Yamaha, sehingga empat motor Yamaha dipastikan absen jika keputusan itu tetap berlaku.
Pihak MotoGP menyatakan kekecewaan atas keputusan Yamaha dan memperingatkan adanya kemungkinan sanksi, meski rinciannya belum diumumkan. Keputusan akhir mengenai persoalan tersebut berada di bawah kewenangan Federasi Sepeda Motor Internasional (FIM).
Sumber: kabaroto » Post






