Daftar Isi
Observatorium Luar Angkasa Neil Gehrels Swift milik NASA yang berada di orbit sejak 2004 kembali memasuki atmosfer Bumi di atas Indonesia. Berdasarkan laporan Jalopnik, proses masuknya kembali satelit tersebut membawa risiko korban jiwa yang melampaui standar teknis badan antariksa tersebut sebanyak lima kali lipat.
Perubahan Penilaian Risiko Masuknya Kembali Satelit
Spesialis Hubungan Masyarakat NASA, Alise Fisher, mengatakan kepada Jalopnik bahwa sebelum peluncuran Swift pada 20 November 2004, pihak NASA memastikan tingkat risiko tersebut telah sesuai dengan persyaratan misi berdasarkan kebijakan lembaga. Perubahan perhitungan risiko tersebut terjadi dalam rentang waktu antara peluncuran hingga masa kepulangan satelit ke Bumi.
Satelit Swift jatuh ke Bumi akibat kehabisan bahan bakar untuk mempertahankan posisi orbit maupun mengubah jalurnya. Pihak NASA sebelumnya sempat menggelontorkan dana sebesar 30 juta dolar Amerika Serikat kepada sebuah perusahaan swasta guna menyelamatkan Swift menggunakan satelit lain untuk menariknya ke orbit yang aman. Upaya penyelamatan tersebut gagal setelah satelit penyelamat mengalami kerusakan.
Ketentuan Standar dan Angka Risiko
Peristiwa jatuhnya Swift dikategorikan sebagai masuknya kembali secara tidak terkendali karena ketiadaan sistem penggerak. Regulasi internal NASA terbaru yang diperbarui pada 2021 menetapkan bahwa risiko korban jiwa manusia akibat sisa puing yang selamat harus berada di bawah angka 0,0001 atau satu berbanding 10.000. Saat ini belum terdapat regulasi hukum mengikat yang mewajibkan satelit harus dibuang dengan cara aman demi menghindari wilayah berpenduduk.
NASA tidak menerbitkan penilaian risiko secara terbuka terkait kepulangan Swift, sebuah tindakan yang dinilai tidak biasa. Badan tersebut baru menyampaikan dalam sebuah pengumuman bahwa risiko korban jiwa dari Swift sebenarnya berada di angka satu berbanding 2.100.
Situasi di Permukaan Bumi dan Masa Depan Antariksa
Tidak terdapat laporan mengenai korban jiwa akibat hantaman puing satelit Swift setelah jatuh ke permukaan. Sebagian besar badan satelit diperkirakan terbakar ketika menembus atmosfer, sementara bagian yang berpotensi bertahan adalah komponen padat seperti lensa teleskop atau roda reaksi.
Era konstelasi satelit raksasa menuntut pembentukan aturan formal untuk mengelola sampah antariksa seiring ribuan satelit yang jatuh setiap tahun. Pengaturan tersebut dapat berupa keharusan melakukan kepulangan terkendali ke wilayah lautan atau merancang satelit agar terbakar habis di atmosfer, meski dampak uap logam terhadap atmosfer masih belum dipastikan oleh para ilmuwan.





