Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75 hingga 4 persen di tengah tingginya laju inflasi. Kebijakan suku bunga tinggi ini berdampak langsung pada melonjaknya biaya kredit pembiayaan kendaraan, baik untuk mobil baru maupun mobil bekas.
Dampak Lonjakan Biaya Kredit Otomotif
Laporan analisis dari lembaga riset Cox Automotive menunjukkan bahwa biaya bunga kini mengambil porsi yang jauh lebih besar dalam transaksi pembelian kendaraan. Kepala Ekonom Cox Automotive, Robb, menjelaskan bahwa beban bunga untuk pembelian mobil baru melonjak 79 persen dibandingkan tahun 2019, mencapai rata-rata 10.100 dolar AS selama masa pinjaman. Sementara itu, beban bunga untuk kendaraan bekas meningkat 96 persen menjadi 10.900 dolar AS.
Tingginya biaya pembiayaan ini menyebabkan uang muka rata-rata untuk pembelian mobil bekas merosot hingga mendekati nol persen dari total pinjaman. Secara keseluruhan, total biaya kepemilikan naik 37 persen untuk mobil baru dan 43 persen untuk mobil bekas dibandingkan kondisi 2019. Kenaikan biaya ini melampaui pertumbuhan harga kendaraan itu sendiri yang rata-rata naik sekitar 30 persen.
Sikap Federal Reserve dan Tekanan Ekonomi Rumah Tangga
Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, menyatakan bahwa aktivitas ekonomi domestik sebenarnya tumbuh cukup kuat dengan belanja masyarakat yang tangguh. Kendati demikian, inflasi tetap menjadi tantangan besar. Berdasarkan data Bureau of Economic Analysis, indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,5 persen pada September, yang mendorong tingkat inflasi tahunan menjadi 3,6 persen.
Warsh menegaskan bahwa komite tetap berkomitmen untuk mengembalikan tingkat inflasi ke target 2 persen. Ia mencatat adanya pengetatan kondisi keuangan dan kredit bagi sejumlah pelaku usaha dan rumah tangga, serta kenaikan harga energi dalam beberapa pekan terakhir.
Di sisi lain, tekanan terhadap anggaran rumah tangga makin nyata. Kepala Ekonom AS di Fifth Third Bank, Bill Adams, menuturkan bahwa laju pengeluaran konsumen kembali melampaui pertumbuhan pendapatan. Kondisi ini menekan tingkat tabungan masyarakat ke titik terendah sejak 2022, yang sangat terasa bagi rumah tangga berpenghasilan rendah dan masyarakat pedesaan akibat kenaikan harga bahan bakar.
Direktur Surveys of Consumers di University of Michigan, Joanne Hsu, menuturkan bahwa indeks sentimen konsumen pada Oktober tercatat 10 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini juga turun 15 persen dari posisi Februari, tepat sebelum konflik Timur Tengah memicu kenaikan biaya bahan bakar. Robb memperkirakan, apabila suku bunga kembali dinaikkan, konsumen kemungkinan besar memilih untuk menunda pembelian kendaraan mereka.
Sumber: Auto Remarketing






