Daftar Isi
India memiliki peluang besar untuk melampaui strategi China+1 dan bertransformasi menjadi mitra manufaktur global yang tepercaya. Menurut laporan Autocar Professional, pencapaian ini didukung oleh peningkatan kapabilitas teknik, kualitas, teknologi, serta ekosistem pemasok yang semakin matang.
Transformasi Arsitektur Rantai Pasok Global
Lanskap manufaktur dunia sedang mengalami perubahan struktural setelah pandemi COVID-19 dan ketegangan geopolitik mengungkap kerentanan rantai pasok yang terpusat di Tiongkok. Meskipun Tiongkok tetap menjadi basis industri utama, perusahaan multinasional kini mulai mencari lokasi alternatif untuk mendiversifikasi produksi melalui strategi China+1. Survei Ekonomi 2025-2026 mencatat bahwa India menyumbang sekitar 2,9 persen dari nilai tambah bruto manufaktur global dan 1,8 persen dari ekspor barang dagangan global pada tahun 2024.
Peluang ini menuntut India untuk tidak sekadar menjadi lokasi pelarian produksi sementara, melainkan membangun fondasi kompetitif jangka panjang. Kinerja ekspor teknik India mencatatkan rekor tertinggi sebesar 122,43 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2025-26, naik dari 116,75 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya dengan pertumbuhan sebesar 4,86 persen. Produk teknik sendiri menyumbang 27,71 persen dari total ekspor merchandise India, yang menunjukkan bahwa integrasi global yang lebih dalam telah dimulai.
Fokus Baru Program Make in India
Fase awal program Make in India dinilai berhasil dalam menarik investasi asing dan menciptakan kesadaran akan potensi manufaktur domestik. Namun, Chairman and Managing Director Cooper Corporation Pvt. Ltd., Farrokh N. Cooper, menyatakan bahwa investasi saja tidak cukup untuk membangun ekosistem manufaktur yang mendalam seperti dikutip dari Autocar Professional.
“The companies are changing their business commodities not just expanding or increasing the capacities of components there are also diversifying the commodities as well,” kata Farrokh N. Cooper kepada Autocar Professional, menjelaskan pergeseran bisnis yang terjadi saat ini.
Fase berikutnya dari program tersebut harus berfokus pada penciptaan kapabilitas daripada sekadar menarik investasi. Hal ini mencakup pengembangan jaringan pemasok lokal, pekerja terampil, perusahaan perkakas, laboratorium pengujian, serta penyedia logistik. Perusahaan-perusahaan global kini tidak hanya melirik India untuk pembuatan komponen, tetapi juga untuk perakitan lengkap.
Peningkatan Kualitas dan Kapabilitas Teknik
Transisi dari model manufaktur berbasis produksi menuju model berbasis teknik sangat krusial bagi masa depan industri di India. Kapasitas hanya mengukur jumlah produksi, sementara kapabilitas menentukan konsistensi, kecepatan pengembangan produk baru, dan efektivitas dalam menyelesaikan masalah teknik yang kompleks. Sektor-sektor seperti otomotif, dirgantara, pertahanan, dan energi sangat bergantung pada presisi manufaktur dan pengendalian proses.
Selain itu, kualitas dan keandalan menjadi faktor penentu dalam membangun kepercayaan global. Disiplin manufaktur harus diterapkan mulai dari desain produk hingga pengiriman akhir. Teknologi Industri 4.0 seperti kecerdasan buatan, otomasi, robotika, dan analitik data dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas serta pemantauan kualitas secara waktu nyata.
Pengembangan riset dan pengembangan (R&D) mandiri juga menjadi pilar penting agar industri tidak hanya bergantung pada teknologi luar. Infrastruktur dan logistik yang efisien, yang tercermin dari peringkat Indeks Performa Logistik Bank Dunia di mana India berada di posisi ke-38 dari 139 negara pada tahun 2023, turut menjadi fondasi penting dalam mendukung daya saing ekspor dan kemudahan berbisnis di masa mendatang.








