Pembalap muda Kimi Antonelli bersiap mencatatkan sejarah sebagai Juara Dunia Formula 1 termuda dalam musim keduanya di ajang balap bergengsi tersebut. Pencapaian luar biasa ini bahkan sempat membuat Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem terkejut saat melihat dokumen resmi sang pembalap.
Kisah di Balik Aplikasi Super License Antonelli
Dalam sebuah perbincangan eksklusif yang dilaporkan oleh The Drive, Mohammed Ben Sulayem menceritakan kembali momen ketika dirinya memeriksa formulir aplikasi Super License milik Antonelli. Pimpinan tertinggi badan pengatur otomotif dunia itu mengaku sempat tertegun saat melihat angka “18” tercantum pada kolom usia.
“I looked at it, and I said, ’18?’ I looked up [at the people with me], and they said, ‘Yes, sir, 18.’ Of course I knew nobody would lie on that form, but still,” ujar Presiden FIA tersebut kepada The Drive.
Di balik usianya yang masih sangat muda, Ben Sulayem menyampaikan rasa bangganya terhadap kehadiran talenta seperti Antonelli di dunia balap motor. Ia menilai pembalap asal Italia tersebut memiliki mentalitas yang kuat serta tidak pernah mengeluhkan berbagai situasi yang dihadapinya.
“I am very proud to see that motorsport has someone like Kimi Antonelli,” tutur Ben Sulayem. “I’ve never heard him complaining; he never complains—I think he’s overcome this—he diverts from complaining.”
Perjalanan Musim Perdana yang Penuh Liku
Perjalanan karier Antonelli menuju puncak kejayaan di Formula 1 tidak diraih dengan mudah. Sejak dikonfirmasi menggantikan Lewis Hamilton di usia 17 tahun dan sempat mengalami kecelakaan di tikungan Parabolica Monza pada hari pengumuman resminya, pembalap muda ini langsung menghadapi tekanan besar di musim debutnya.
Ben Sulayem mengenang bagaimana Antonelli sempat menghadapi serangan kebencian secara daring dan insiden kecelakaan di Monza, sebelum akhirnya bangkit dan mencatatkan sejarah sebagai pembalap muda Italia pertama yang menang di sana dalam kurun waktu enam dekade. Keberhasilan tersebut dinilai sebagai sebuah momen yang sangat emosional.
“He just goes and drives and delivers the results,” ungkap Ben Sulayem. “He was under attack last year with some online abuse, you know, and then he had that crash in Monza when he went off into the gravel. Then he came back and became the first young Italian to win there in 60 years. That was so emotional.”
Lebih lanjut, Ben Sulayem memuji etos kerja serta dukungan keluarga dan tim yang berada di belakang kesuksesan sang pembalap. Menurutnya, bakat besar saja tidak cukup, melainkan harus diimbangi dengan latihan keras dan pola pikir yang matang.
“He is a phenomenon, like some other drivers that we have. Phenomenon means a lot of things; it’s not just being born with it. It means that you do all your training, you have your own way of thinking, etc.,” pungkas Ben Sulayem kepada The Drive.
Sumber: The Drive







