Kementerian Keuangan Malaysia memperkirakan total pengeluaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan mencapai sekitar RM40 miliar pada 2026. Meskipun demikian, beban tagihan subsidi bulanan pemerintah tercatat mulai melandai ke kisaran RM3 miliar pada periode Juni hingga Agustus.
Tekanan Harga Minyak Mentah Dunia
Penurunan tagihan bulanan tersebut terjadi setelah sebelumnya sempat melonjak tajam akibat kenaikan harga minyak mentah dunia di tengah konflik yang berlangsung di Timur Tengah. Seperti dilaporkan Paul Tan’s Automotive News, krisis pasokan global tersebut telah menekan keuangan pemerintah secara signifikan, terutama untuk pengeluaran subsidi BBM dan utilitas.
Dalam jawaban tertulis di parlemen, Kementerian Keuangan Malaysia menjelaskan bahwa konflik kawasan telah mendorong harga minyak mentah dunia melonjak di atas 120 dolar AS per barel. Kondisi tersebut berdampak langsung pada lonjakan subsidi bulanan untuk bensin, diesel, dan gas minyak cair (LPG), yang naik dari sekitar RM800 juta pada Januari dan Februari menjadi hampir RM5 miliar pada Maret dan April, sebelum akhirnya mereda ke angka RM3 miliar per bulan sejak Juni hingga Agustus 2026.
Skema Budi Madani dan Harga RON 95
Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim menyampaikan bahwa masyarakat akan tetap membeli bensin bersubsidi jenis RON 95 seharga RM1,99 per liter melalui program Budi Madani RON 95 (Budi95). Ketetapan harga ini akan terus dipertahankan sekalipun total belanja subsidi BBM pemerintah membengkak hingga RM42 miliar sampai RM45 miliar saban tahun.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan Malaysia pada Juni lalu, sebanyak 11,1 miliar liter bahan bakar dengan nilai penjualan RM22,1 miliar telah tersalurkan lewat program Budi Madani sejak akhir September tahun lalu hingga 31 Mei. Dari total nilai penjualan tersebut, biaya subsidi yang ditanggung oleh pemerintah mencapai RM11,2 miliar.
Sumber: Paul Tan's Automotive News






