Daftar Isi
Sebuah kelompok konsumen di Korea Selatan berencana mengajukan keluhan kepada Komisi Perdagangan Adil Korea (KFTC) untuk menghentikan Tesla dalam memasarkan fitur “Full Self-Driving” (FSD) kepada pelanggan yang kendaraannya tidak dapat menggunakan fitur tersebut secara legal. Berdasarkan data Tesla sendiri, pembatasan ini mencakup sekitar 99 persen dari total kendaraan Tesla yang terjual di Korea Selatan tahun lalu.
Mayoritas Tesla di Korea Tidak Mendukung FSD
Masalah ini berakar pada lokasi produksi kendaraan tersebut. Model S, Model X, dan Cybertruck yang diproduksi di pabrik Amerika Serikat masuk ke Korea Selatan di bawah perjanjian perdagangan bebas KORUS yang mengakui standar keselamatan AS. Model-model inilah yang mendapatkan akses “FSD (Supervised)” saat Tesla meluncurkannya di Korea Selatan akhir tahun lalu.
Namun, kendaraan tersebut bukan merupakan mayoritas dari armada Tesla di Korea Selatan. Model 3 dan Model Y yang dijual di negara tersebut diproduksi di Giga Shanghai, Tiongkok. Karena tidak adanya perjanjian serupa dengan Tiongkok, kendaraan tersebut memerlukan persetujuan dari otoritas Korea yang hingga kini belum dimiliki oleh fitur FSD.
Manajer Tesla Korea, Seo Young-deuk, mengungkapkan kepada anggota parlemen bulan lalu bahwa FSD hanya dapat beroperasi pada sekitar 20 persen dari total Tesla yang terdaftar di negara tersebut. Data yang diserahkan kepada Majelis Nasional menunjukkan bahwa Tesla telah menjual lebih dari 170.000 kendaraan buatan Shanghai di Korea Selatan sejak 2023, dengan angka penjualan yang meningkat lebih dari lima kali lipat antara 2023 hingga 2025.
Tuduhan Terhadap Praktik Pemasaran Tesla
Selama bertahun-tahun, Tesla membebankan biaya satu kali sebesar 9,043 juta won atau sekitar Rp105 juta untuk fitur FSD, sebelum beralih ke sistem berlangganan bulanan sebesar 150.000 won atau sekitar Rp1,7 juta pada Agustus lalu. Kelompok Citizens United for Consumer Sovereignty menyoroti promosi “segera hadir” dan video demonstrasi Tesla yang menggunakan jalanan Korea, namun tidak menjelaskan bahwa fitur tersebut hanya berfungsi pada sebagian kecil mobil yang mereka jual.
Choi Young-suk, kepala isu otomotif di kelompok tersebut, menyatakan bahwa Tesla telah memperoleh pendapatan besar dengan menjual sistem bantuan pengemudi yang mahal kepada pembeli pasar massal yang bahkan tidak dapat menggunakannya sama sekali. Kelompok tersebut mendesak KFTC untuk mengeluarkan perintah sementara agar Tesla berhenti memasarkan FSD untuk mobil yang tidak memenuhi syarat, serta menuntut denda dan pelimpahan kasus kepada penyelidik negara.
Pihak KFTC mengonfirmasi kepada Reuters bahwa mereka telah membuka penyelidikan terkait iklan FSD Tesla awal tahun ini dan telah menerima tanggapan tertulis dari perusahaan tersebut. Hingga saat ini, Tesla belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Proses Sertifikasi dan Aturan Keselamatan
Meskipun telah mengumpulkan biaya FSD dari pembeli mobil buatan Tiongkok selama lebih dari tiga tahun, Seo bersaksi dalam dengar pendapat parlemen pada 8 Oktober bahwa Tesla belum pernah secara resmi meminta kementerian transportasi untuk menguji FSD. Tesla baru mengajukan permohonan sertifikasi sekitar dua minggu setelah dengar pendapat tersebut.
Persetujuan tersebut diperkirakan tidak akan mudah didapat. Kementerian transportasi menyatakan kepada anggota parlemen bahwa FSD saat ini tidak mematuhi aturan keselamatan lokal, termasuk persyaratan agar pengemudi tetap memegang kemudi. Versi FSD saat ini memungkinkan pengemudi untuk melepas tangan dari kemudi selama kamera kabin mendeteksi pengemudi sedang memperhatikan jalan.
Kendati demikian, penjualan Tesla di Korea Selatan tetap tinggi hingga melampaui BMW tahun ini sebagai merek mobil impor teratas. Sebelumnya, pengadilan di Seoul telah menolak gugatan dari pemilik Tesla yang menuntut pengembalian dana FSD, dengan hakim menyatakan bahwa regulasi Korea, bukan Tesla, menjadi alasan utama fitur tersebut tidak pernah diluncurkan.
Sumber: Electrek







