Daftar Isi
Produsen otomotif Volkswagen menghadapi kerugian operasional kuartalan terbesar dalam lebih dari satu dekade terakhir dengan total mencapai USD6,6 miliar atau sekitar Rp104 triliun hanya dalam kurun waktu tiga bulan pada kuartal ketiga tahun 2026. Angka tersebut menjadi catatan kerugian terbesar perusahaan setelah skandal emisi Dieselgate, yang kali ini dipicu oleh penurunan nilai investasi pada Porsche serta ketatnya persaingan di pasar global.
Penurunan Nilai Porsche dan Beban Biaya
Sebagai produsen mobil terbesar kedua di dunia, Volkswagen terpukul oleh penurunan nilai saham kepemilikannya di Porsche yang tengah mengalami kelesuan penjualan. Meskipun pihak Porsche tetap tenang menghadapi penurunan penjualan sepanjang 2026, Volkswagen terus mengalami penurunan kinerja keuangan yang signifikan.
Prospek laba perusahaan anjlik hingga menyentuh angka 1 persen menjelang akhir kuartal ketiga pada September tahun ini, sementara penjualan kendaraan listrik mereka di Amerika Serikat juga merosot. Selain itu, perusahaan harus menanggung biaya sekali bayar sebesar USD8,955 miliar yang hampir mendekati rekor kerugian pada masa skandal Dieselgate.
Tekanan dari Persaingan Pasar China
Volkswagen sebelumnya sempat merebut kembali posisi puncak pangsa pasar di China pada Maret 2026. Kendati demikian, persaingan yang sangat ketat serta margin keuntungan yang semakin menyusut mengancam posisi perusahaan lebih lanjut di negara tersebut.
Ancaman yang lebih besar muncul ketika produsen kendaraan listrik asal China mulai berekspansi ke Eropa dan menggerus pasar di benua asal Volkswagen sendiri. Kondisi ini membuat Volkswagen tidak lagi menjadi kekuatan dominan seperti pada tahun 2019, memaksa perusahaan bertahan di tengah penyusutan pangsa pasar baik di China maupun Eropa.
Langkah Restrukturisasi dan Penutupan Pabrik
Menanggapi kerugian masif tersebut, manajemen berencana melakukan perombakan total pada model bisnis mereka. Kepala Keuangan Arno Antlitz menyatakan dalam pemaparan laporan keuangan kuartal ketiga 2026 bahwa mereka harus merombak ulang model bisnis secara mendasar.
Sebagai bagian dari langkah penyelamatan, perusahaan merencanakan pemangkasan sekitar 100.000 posisi pekerjaan serta menutup hingga empat pabrik di Jerman. Para investor dilaporkan telah menganggap tahun 2026 sebagai tahun transisi, sementara langkah restrukturisasi ini berpotensi memicu ketegangan lanjutan dengan serikat pekerja di tengah laporan pembekuan upah bagi 660.000 tenaga kerja hingga tahun 2026.
Sumber: Autoblog News






