Daftar Isi
Maruti Suzuki India menghadapi tantangan rantai pasok untuk jajaran kendaraan *strong hybrid* akibat ketergantungan pada komponen impor dari Jepang. Waktu tunggu yang mencapai empat hingga lima bulan membuat kapasitas produksi varian tersebut sulit ditingkatkan meskipun penjualan SUV secara keseluruhan mengalami peningkatan.
Kendala Waktu Tunggu dan Penjualan
Partho Banerjee selaku Senior Executive Officer, Marketing and Sales Maruti Suzuki India, menjelaskan bahwa perusahaan dapat menaikkan volume produksi SUV berbahan bakar bensin jauh lebih cepat. Sebaliknya, varian *strong hybrid* sangat bergantung pada ketersediaan kit impor.
“Untuk hybrid, kami harus menunggu karena kit-nya datang dari Jepang,” kata Partho Banerjee seperti dilaporkan Autocar Professional, saat pemaparan penjualan bulan Oktober pada hari Minggu.
Pernyataan tersebut disampaikan untuk menanggapi rendahnya kontribusi penjualan varian *strong hybrid* pada model Victoris dan Grand Vitara. Menurut Banerjee, terdapat masa tunggu hampir empat sampai lima bulan sehingga peningkatan volume pada model lain secara otomatis akan menurunkan persentase kontribusi hybrid.
Dalam laporan penjualan bulan Oktober, Maruti mencatat angka penjualan sekitar 17.000 unit SUV Victoris dan 11.000 unit Grand Vitara yang mencakup seluruh opsi penggerak seperti bensin, CNG, dan *strong hybrid*. Model Victoris sendiri diluncurkan pada September 2025 melalui jaringan diler Arena, sementara Grand Vitara dipasarkan lewat diler Nexa.
Penurunan Pangsa Pasar Hybrid
Kendati permintaan SUV melonjak, pertumbuhan tersebut tidak diiringi peningkatan penjualan *strong hybrid* yang sebanding. Data registrasi VAHAN yang dianalisis oleh ElecTree mencatat registrasi gabungan kedua model itu pada kategori *strong hybrid* naik sekitar 15 persen menjadi 13.172 unit selama periode Januari hingga September 2026, dibanding 11.439 unit pada tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, total registrasi dari seluruh varian mesin untuk kedua SUV tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 1,77 lakh unit. Kondisi ini membuat pangsa pasar *strong hybrid* menyusut menjadi sekitar 7 persen dari sebelumnya hampir 15 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Selain masalah pasokan, Banerjee menyoroti aturan pajak GST yang menyamakan *strong hybrid* dengan kendaraan bensin konvensional nir-aspirasi, tanpa insentif tarif lebih rendah seperti yang diberikan kepada kendaraan listrik berbasis baterai.
Kinerja Keuangan dan Peningkatan Produksi
Kendala pasokan ini terjadi di tengah pertumbuhan bisnis SUV Maruti yang pesat. Berdasarkan hasil keuangan kuartal kedua tahun fiskal 2027, penjualan domestik SUV melonjak 68,2 persen secara tahunan pada periode Juli-September berkat tingginya permintaan model baru.
Secara keseluruhan, Maruti membukukan total penjualan kendaraan sebanyak 6.97 lakh unit pada kuartal kedua atau tumbuh 26,5 persen dari tahun sebelumnya. Perusahaan menutup September dengan sekitar dua juta pesanan tertunda dan inventaris diler selama 17 hari.
Tekanan pasokan berlanjut hingga Oktober ketika Maruti mencatatkan rekor pengiriman sebanyak 2.76 lakh kendaraan atau naik sekitar 25 persen secara tahunan. Manajemen menyebutkan sisa pesanan tertunda mencapai sekitar 2.45 lakh unit pada akhir bulan, sementara inventaris diler turun menjadi 12 hari.
Rahul Bharti selaku Senior Executive Officer, Corporate Affairs menyampaikan bahwa perusahaan terus mendongkrak kapasitas produksi melalui jalur manufaktur baru dan efisiensi operasional. Rata-rata output harian meningkat dari sekitar 9.100 unit pada kuartal pertama menjadi 9.600 unit pada kuartal kedua, dan mencapai 10.100 unit pada bulan Oktober.
Namun, penambahan kapasitas secara keseluruhan tersebut belum mampu mengatasi ketergantungan terhadap komponen *strong hybrid* impor. Hingga kini, pihak Maruti belum mengungkapkan jumlah pasti kit hybrid yang mereka terima dari Jepang setiap bulannya ataupun kepastian waktu normalisasi pasokan komponen tersebut.





