Daftar Isi
Merek mobil mewah asal Inggris, Aston Martin, masih terus menghadapi tantangan finansial yang berat. Berdasarkan laporan Autoblog News, perusahaan tersebut telah mengalami kerugian kumulatif senilai 2,3 miliar poundsterling atau setara dengan USD 3,1 miliar sejak diambil alih oleh miliarder asal Kanada, Lawrence Stroll, pada tahun 2020.
Kinerja Keuangan Kuartal Ketiga
Berdasarkan laporan keuangan kuartal ketiga yang dikutip dari Bloomberg, pabrikan mobil tersebut mencatat kerugian sebelum pajak sebesar 77 juta poundsterling atau sekitar USD 102 juta. Angka ini membaik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan kerugian sebesar 111,9 juta poundsterling atau USD 148 juta.
Kerugian bersih perusahaan juga mengalami penurunan dari 131,8 juta poundsterling atau USD 175 juta menjadi 78,8 juta poundsterling atau USD 104 juta. Meskipun ada perbaikan pada angka kerugian tersebut, total utang bersih perusahaan kini telah mencapai 1,57 miliar poundsterling atau sekitar USD 2,1 miliar.
Strategi Penjualan Model Eksklusif
Pengiriman grosir Aston Martin pada kuartal ketiga tercatat stabil di angka 1.431 kendaraan, tidak berbeda jauh dari 1.430 kendaraan pada tahun sebelumnya. Namun, pendapatan perusahaan melonjak 36 persen menjadi 389 juta poundsterling atau USD 515 juta, sementara laba kotor melonjak hingga 76 persen berkat kombinasi penjualan yang lebih menguntungkan.
Kenaikan performa finansial tersebut didorong oleh kehadiran Valhalla, supercar *plug-in hybrid electric vehicle* (PHEV) pertama dari merek tersebut. Valhalla dirancang untuk bersaing dengan kendaraan berperforma tinggi seperti Ferrari 849 Testarossa dan Lamborghini Revuelto.
Selain itu, varian Valhalla Spider diperkirakan akan dijual dengan harga sekitar 20 persen lebih mahal daripada versi kupe. Perusahaan juga akan menghadirkan Valen pada kuartal kedua tahun 2027, model edisi terbatas dengan mesin V12 5,2 liter *twin-turbocharged* yang menghasilkan tenaga sebesar 838 tenaga kuda.
Tantangan Global dan Investasi Formula 1
Aston Martin masih harus mengatasi berbagai hambatan, termasuk melemahnya permintaan pasar di China, penerapan tarif impor di Amerika Serikat, serta permasalahan hukum dari para pemegang obligasi seperti Arini Capital terkait pengaturan pembiayaan mereka.
Di luar produksi kendaraan komersial, Lawrence Stroll juga menanamkan investasi besar pada ajang Formula 1. Tim balap tersebut beroperasi secara terpisah dari perusahaan mobil jalan raya dan berfungsi sebagai sarana pemasaran global, serta telah bekerja sama dengan Honda sebagai pemasok unit daya eksklusif sejak awal musim 2026.
Sumber: Autoblog News







