Daftar Isi
Lebih dari dua pertiga pembeli mobil bekas mengkhawatirkan adanya kerusakan tersembunyi atau masalah teknis yang tidak diungkapkan oleh penjual. Temuan tersebut berdasarkan hasil survei Cazoo Consumer Insight Panel terhadap 2.025 pembeli kendaraan di Inggris.
Rendahnya Kepercayaan Konsumen terhadap Dealer
Dalam survei tersebut, kecemasan akan kerusakan yang dirahasiakan menjadi isu utama bagi konsumen. Hanya sekitar 35,5 persen pembeli yang menyatakan percaya kepada dealer mobil bekas. Sementara itu, 16,5 persen pembeli tidak percaya dan 48 persen selebihnya bersikap netral. Lebih dari separuh responden juga memperkirakan bakal menghadapi kendala dalam proses transaksi.
Kekhawatiran lain yang dirasakan konsumen meliputi riwayat kendaraan yang tidak jelas sebesar 45 persen, harga yang terlalu tinggi mencapai 41 persen, serta taktik penjualan yang terlalu memaksa sebanyak 36 persen.
Untuk meningkatkan kepercayaannya, 61 persen responden menginginkan dealer menyediakan laporan riwayat kendaraan secara menyeluruh. Selain itu, 42 persen pembeli mengharapkan adanya pemeriksaan independen atau garansi, 42 persen menyukai penetapan harga pasti tanpa tawar-menawar, dan 40 persen mempertimbangkan ulasan pelanggan terverifikasi. Sebanyak 32 persen responden juga menghargai akreditasi dari lembaga perdagangan, sedangkan 18 persen menganggap foto atau video fasilitas dealer penting.
Chief Marketing Officer Cazoo, Lucy Tugby, menjelaskan bahwa dealer dengan kinerja terbaik adalah pihak yang memiliki mekanisme jelas untuk memastikan deskripsi kendaraan dibuat secara akurat serta dilengkapi inspeksi independen dan garansi.
Risiko Komponen Kantong Udara Palsu
Pentingnya pemeriksaan independen pada kendaraan bekas turut menjadi sorotan Lembaga Keselamatan Jalan Raya Nasional Amerika Serikat (NHTSA), terutama dalam mengantisipasi penggunaan kantong udara (airbag) palsu. NHTSA mencatat kematian ke-11 yang disebabkan oleh komponen pembuat kantong udara palsu terlarang bertanda DTN60DB pada September lalu.
Kasus terbaru ini melibatkan Chevrolet Equinox dan menjadi kematian pertama pada model tersebut. Sebelumnya, 10 kasus kematian serta tiga cedera berat terjadi pada Chevrolet Malibu dan Hyundai Sonata. Seluruh kecelakaan fatal tersebut melibatkan kendaraan yang inflator airbag pengemudi aslinya telah diganti dengan suku cadang cacat yang diimpor secara ilegal.
Celah Penjualan dan Lelang Kendaraan
Anggota dewan Automotive Anti-Counterfeiting Council (A2C2), Teena Bohi, menyampaikan dalam acara Collision Industry Conference (CIC) bahwa suku cadang palsu kerap terpasang melalui celah proses hukum. Kendaraan yang terlibat umumnya merupakan armada perusahaan atau mobil dengan asuransi mandiri yang pernah mengalami kerusakan total (totaled).
Penentuan status rusak total sangat bergantung pada kriteria penanggung asuransi dan aturan di wilayah terkait. Setelahnya, mobil tersebut sering dijual melalui lelang. Apabila lelang dilakukan secara privat atau grosir, riwayat kecelakaan kendaraan tersebut kerap tidak tercatat dalam sistem National Motor Vehicle Title Information System (NMVTIS). Selain itu, aturan penerbitan ulang surat kendaraan di berbagai daerah banyak yang tidak mewajibkan pemeriksaan kantong udara.
Imbauan Keselamatan dan Penanganan Khusus
NHTSA mendesak para pemilik mobil bekas yang pernah mengalami kecelakaan sejak tahun 2020 untuk segera melakukan pemeriksaan ke bengkel terpercaya. Jika kendaraan terbukti menggunakan inflator bertanda DTN60DB, mobil dilarang dikendarai sampai komponen tersebut diganti dengan suku cadang asli. NHTSA juga mengingatkan pemilik agar tidak mencoba memeriksa kantong udara secara mandiri.
Selain itu, NHTSA melarang keras teknisi melakukan pengujian arus listrik pada terminal sambungan airbag karena berisiko memicu ledakan. Director of Technical Products and Curriculum I-CAR, Bud Center, menuturkan kepada Repairer Driven News bahwa teknisi yang mencurigai adanya kantong udara palsu sebaiknya segera menghubungi produsen resmi kendaraan untuk mendapatkan petunjuk penanganan.
Pemilik kendaraan yang menemukan indikasi penggunaan inflator berbahaya diminta untuk melaporkannya ke kantor Homeland Security Investigations, kantor lapangan FBI, National Intellectual Property Rights Coordination Center, atau melalui hotline keselamatan kendaraan milik NHTSA.
Sumber: Repairer Driven News







