Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk meningkatkan jumlah emisi gas metana yang diizinkan untuk dibuang oleh perusahaan pengeboran minyak dan gas ke atmosfer. Langkah ini diambil dengan mencabut pembatasan era pemerintahan Biden mengenai batas kebocoran metana dari aktivitas pengeboran.
Dampak Lingkungan dan Cadangan Minyak
Gas metana merupakan salah satu polutan berbahaya yang memerangkap panas jauh lebih banyak daripada karbon dioksida, memperburuk ozon permukaan tanah, serta memicu peningkatan masalah pernapasan, penyakit jantung, stroke, hingga kanker. Menurut catatan Associated Press, kebijakan penghapusan batasan tersebut dilakukan untuk mendorong peningkatan pengeboran domestik di tengah kritik terhadap tingginya harga bahan bakar akibat perang di Iran.
Pihak Gedung Indonesia—dalam hal ini Gedung Putih—berargumen bahwa kebijakan membiarkan perusahaan minyak lebih banyak mencemari udara akan menghemat miliaran dolar biaya perusahaan sekaligus membuka potensi sekitar 210 juta barel minyak. Namun, berdasarkan tingkat konsumsi minyak di Amerika Serikat saat ini, jumlah tersebut diperkirakan hanya mencukupi kebutuhan selama 10 hari saja.
Di sisi lain, pemotongan emisi metana sebenarnya telah menjadi prioritas global dalam beberapa tahun terakhir guna memperlambat laju perubahan iklim. Sektor minyak dan gas tercatat sebagai sumber industri terbesar penyumbang metana, yang merupakan komponen utama gas alam dan jauh lebih kuat merusak atmosfer dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek.
Kenaikan Harga Bahan Bakar
Tekanan terhadap Presiden Trump dan Partai Republik meningkat akibat perang dengan Iran yang memicu lonjakan harga bahan bakar. Badan Informasi Energi AS mencatat harga rata-rata bensin mencapai US$4,27 per galon dan solar menembus US$6,35 per galon, naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya ketika bensin masih seharga US$3,04 per galon dan solar US$3,72 per galon.
Tingginya harga bahan bakar tersebut membuat popularitas Partai Republik merosot hingga mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir. Sejumlah kelompok lingkungan hidup mengecam kebijakan pelonggaran tersebut karena dinilai memberikan lampu hijau bagi perusahaan untuk terus mencemari atmosfer dengan gas yang sebenarnya bisa ditangkap dan dimanfaatkan sebagai energi bagi jutaan rumah tangga.
Presiden Environmental Defense Fund, Fred Krupp, menyatakan bahwa kebijakan ini memberikan kebebasan cuma-cuma kepada perusahaan dengan mengorbankan konsumen Amerika. Menurutnya, Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) seharusnya melawan pemborosan tersebut dan bukan justru mempermudahnya.







