Membeli mobil baru membutuhkan kecermatan ekstra, terutama dalam memeriksa spesifikasi mesin yang diusung. Memilih varian mesin tanpa perhitungan matang dapat berdampak langsung pada pengeluaran biaya bahan bakar dalam jangka panjang.
Perbedaan Konsumsi Bahan Bakar pada Varian Mesin
Salah satu contohnya dapat dilihat pada model Audi Q3. Seperti dilaporkan Auto Express, skema penamaan varian yang rumit membuat konsumen kerap kesulitan membedakan antara varian 150 TFSI dan 204 TFSI quattro. Kedua tipe tersebut sama-sama mengusung mesin bensin empat silinder dengan turbocharger dan berada di lini tengah jajaran Q3 tanpa berstatus sebagai varian performa utama. Secara tampilan luar maupun rasa berkendara, kedua tipe ini hampir tidak berbeda.
Meskipun tambahan tenaga sekitar 50 bhp pada varian yang lebih tinggi tidak selalu terasa saat dikemudikan, perbedaan efisiensi bahan bakarnya sangat terlihat. Memilih mesin 204 TFSI mengubah konsumsi bahan bakar dari yang semula cukup hemat sebesar 43 mpg menjadi 34 mpg. Angka tersebut tergolong boros untuk ukuran kendaraan sekelas Q3 dan dapat membengkakkan biaya operasional harian. Hal ini tidak hanya berlaku pada merek Audi, tetapi juga pada seluruh mobil bermesin bensin yang menawarkan beberapa pilihan dapur pacu dalam satu model.
Waspadai Penawaran Varian di Dealer
Saat bertransaksi di dealer, sales representative tidak jarang menawarkan varian yang sedikit berbeda dari unit yang telah diuji kendara (test drive), baik demi kemudahan proses maupun ketersediaan stok. Hal tersebut memang bukan masalah besar, namun pembeli disarankan untuk meneliti kembali jenis mesin yang berada di balik kap sebelum menandatangani kontrak pembelian.
Kelalaian dalam memeriksa rincian mesin berisiko membuat konsumen mendapatkan mobil yang boros bahan bakar dan memicu pengeluaran besar di masa mendatang.
Sumber: Sitewide RSS feed







