Pemerintah Malaysia memutuskan untuk tetap mempertahankan sistem Pajak Penjualan dan Perkhidmatan (SST) serta belum mempertimbangkan penerapan kembali Pajak Barang dan Perkhidmatan (GST). Langkah ini diambil untuk menghindari beban tambahan akibat peningkatan biaya hidup masyarakat, sebagaimana dilaporkan Paul Tan’s Automotive News dari laporan The Edge.
Menteri Kewangan II Datuk Seri Amir Hamzah Azizan menjelaskan bahwa pemerintah akan terus menyempurnakan SST untuk mengurangi dampak pajak berganda (cascading taxes) sekaligus mempermudah kepatuhan bagi para pelaku usaha. Menurutnya, SST memberikan ruang bagi pemerintah untuk menerapkan pendekatan perpajakan yang lebih progresif dan terarah.
Pertimbangan Beban Masyarakat dan Golongan Berpenghasilan Rendah
Dalam pernyataannya di parlemen pada Selasa (29/10), Amir Hamzah menyampaikan bahwa pemerintah memiliki fleksibilitas untuk memilih barang dan jasa yang dikenakan pajak sambil tetap membebaskan kebutuhan pokok. Meskipun sebagian beban pajak berpotensi diteruskan ke harga jual, cakupan pemajakan tetap ditentukan dengan mempertimbangkan kemampuan finansial rakyat.
Mengenai GST, Amir Hamzah menilai sistem pajak tersebut cenderung bersifat regresif karena kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menghabiskan porsi pendapatan yang lebih besar untuk mengonsumsi barang dan jasa. Dengan tarif yang sama, beban relatif terhadap pendapatan terasa lebih berat bagi masyarakat, khususnya kelompok B40 dan M40. Oleh karena itu, potensi tambahan penerimaan negara harus dinilai seimbang dengan beban yang harus ditanggung rakyat.
Proyeksi Penerimaan Negara dan Beban Kepatuhan Usaha
Data Tinjauan Fiskal dan Laporan Penerimaan Pemerintah Persekutuan Malaysia 2027 menunjukkan penerimaan SST diperkirakan meningkat menjadi RM67 miliar pada 2026 dari RM55,9 miliar pada 2025. Penerimaan tersebut diproyeksikan kembali naik menjadi RM73,3 miliar pada 2027, atau mengalami peningkatan sebesar RM17,4 miliar dalam kurun waktu dua tahun.
Amir Hamzah menuturkan bahwa peningkatan ini membuktikan kemampuan SST dalam menghasilkan pendapatan untuk membiayai kebutuhan negara. Ia mengakui bahwa GST memang memiliki keunggulan dari segi efisiensi pengumpulan, transparansi, serta mekanisme kredit pajak masukan. Namun, sistem pajak yang dipilih Malaysia harus tetap memperhitungkan kemampuan bayar masyarakat.
Dari sisi kepatuhan, Amir Hamzah mengungkapkan terdapat hampir 700.000 bisnis yang terdaftar di bawah sistem GST pada 2018. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 130.000 bisnis yang terdaftar dalam sistem SST pada 2026, yang mengindikasikan bahwa lebih banyak pelaku usaha harus menanggung biaya kepatuhan jika GST diterapkan.
Meskipun penerapan kembali GST belum dipertimbangkan, Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim dilaporkan telah mengarahkan Kementerian Kewangan pada Agustus lalu untuk melakukan studi menyeluruh terkait usulan sistem perpajakan hibrida yang menggabungkan SST dan GST.
Sumber: Paul Tan's Automotive News








