General Motors setuju membayar 220 juta dolar AS untuk menyelesaikan tuduhan serta tuntutan hukum terkait penjualan data berkendara sensitif kepada pialang asuransi tanpa izin konsumen. Kasus ini mencuat menyusul laporan investigasi yang mengungkap praktik pengumpulan data pribadi jutaan pengemudi kendaraan di Amerika Serikat.
Praktik Pengumpulan Data Melalui OnStar Smart Driver
Jutaan pengemudi kendaraan produksi General Motors yang mendaftar dalam fitur OnStar Smart Driver antara tahun 2016 hingga 2024 dijanjikan bahwa sistem tersebut akan membantu memperbaiki cara berkendara mereka tanpa memperjualbelikan informasi pribadi. Namun, sistem tersebut secara diam-diam mengumpulkan data lokasi akurat serta perilaku berkendara, seperti pengereman mendadak, kecepatan tinggi, serta kebiasaan berkendara larut malam.
Informasi yang terkumpul kemudian dijual kepada pialang data besar termasuk LexisNexis dan Verisk untuk menyusun laporan kredit pengemudi. Berdasarkan data tersebut, sejumlah perusahaan asuransi menaikkan tarif atau bahkan menolak pengajuan asuransi kendaraan milik konsumen. General Motors menghentikan kerja sama dengan para pialang data tersebut hanya berselang dua minggu setelah laporan investigasi dipublikasikan. Meskipun demikian, produsen otomotif itu tetap menghadapi sanksi lanjutan dari Komisi Perdagangan Federal (FTC) yang melarang pembagian data lokasi dan perilaku pengemudi kepada lembaga pelaporan konsumen selama lima tahun, serta mewajibkan persetujuan eksplisit dari pemilik kendaraan.
Pemberian Insentif Dealer dan Tanggapan Perusahaan
Penyelesaian senilai 220 juta dolar AS ini dipimpin oleh jaksa agung dari 36 negara bagian di Amerika Serikat dengan dipimpin oleh Jaksa Agung Negara Bagian Washington, Nick Brown. Melalui pernyataan kepada Reuters, juru bicara General Motors menyatakan bahwa perusahaan telah memperkuat sistem privasi kendaraan mereka. “Pengalaman yang lebih aman, membantu, dan dipersonalisasi dimungkinkan oleh data kendaraan terhubung, dan GM berkomitmen untuk bersikap jelas mengenai informasi apa yang digunakan, bagaimana informasi tersebut dilindungi, serta pilihan yang dimiliki pelanggan tentang apa yang mereka bagikan,” ujar juru bicara tersebut.
Nick Brown mengungkapkan bahwa banyak pengemudi yang secara otomatis terdaftar ke dalam program Smart Driver ketika berlangganan layanan OnStar. Penyelidikan juga menemukan bahwa pegawai diler kerap menyetujui syarat dan ketentuan atas nama pelanggan tanpa persetujuan mereka. General Motors memberikan insentif besar kepada diler untuk pendaftaran OnStar, di mana para pegawai menerima bonus berdasarkan jumlah pelanggan yang berhasil berlangganan layanan tersebut.
Selain itu, aplikasi OnStar milik General Motors sempat memberikan informasi keliru kepada 370.000 pengemudi bahwa mereka tidak terdaftar dalam program Smart Driver padahal data mereka tetap dijual. Ketika para pengemudi tersebut dikeluarkan dari sistem secara sepihak tanpa pemberitahuan, pihak pialang dan perusahaan asuransi dilaporkan tetap menyimpan data berkendara sensitif milik mereka.








