Auto News

Hyundai: Tantangan Utama Mobil Hidrogen Adalah Pembeli

Hyundai: Tantangan Utama Mobil Hidrogen Adalah Pembeli
Daftar Isi
  1. Tantangan Terbesar Berada di Sisi Permintaan
  2. Tinggi Biaya dan Keterbatasan Infrastruktur
  3. Pabrikan Lain Pilih Fokus pada Baterai

Hyundai menegaskan bahwa teknologi sel bahan bakar (fuel cell) hidrogen untuk mobil penumpang belum sepenuhnya berakhir, meski kendaraan listrik berbasis baterai kini semakin mendominasi pasar global. Pabrikan asal Korea Selatan tersebut percaya bahwa kendaraan berdaya hidrogen masih memiliki tempat di industri otomotif masa depan.

Tantangan Terbesar Berada di Sisi Permintaan

Senior Manager of Future Mobility and Government Relations Hyundai Australia, Scott Nargar, mengonfirmasi kepada majalah CarExpert bahwa pihaknya masih mengevaluasi pengembangan mobil sel bahan bakar generasi berikutnya. Kendati demikian, ia mengakui bahwa tingkat permintaan pasar masih menjadi rintangan terbesar bagi pabrikan.

Menurut Nargar, hal paling krusial bagi keberlanjutan mobil hidrogen adalah menemukan konsumen yang bersedia membelinya. Mengembangkan teknologinya merupakan satu hal, namun meyakinkan pembeli untuk meminang kendaraan yang sangat bergantung pada jaringan pengisian bahan bakar yang masih terbatas adalah persoalan yang jauh lebih sulit.

Hyundai sebelumnya telah menimba pengalaman melalui model crossover Nexo dan kini tengah mempertimbangkan kelanjutan generasi penerusnya. Produsen ini tidak sendirian dalam mempertimbangkan potensi hidrogen. Toyota juga terus meneliti teknologi tersebut melalui sedan Mirai, sedangkan BMW berkomitmen menghadirkan iX5 Hydrogen pada akhir dekade ini. Pada 2024, Toyota dan BMW bahkan memperkuat kemitraan untuk bersama-sama mengembangkan sistem sel bahan bakar generasi ketiga demi menekan biaya produksi.

Tinggi Biaya dan Keterbatasan Infrastruktur

Rendahnya minat terhadap mobil penumpang berteknologi hidrogen dipicu oleh dua kendala utama, yakni tingginya biaya produksi dan minimnya stasiun pengisian. Berbeda dengan kendaraan listrik baterai yang diuntungkan oleh pesatnya perluasan jaringan pengisian daya umum serta kemudahan pengisian di rumah, mobil hidrogen membutuhkan infrastruktur khusus yang membutuhkan biaya pembangunan dan perawatan sangat tinggi.

Nargar menjelaskan bahwa teknologi hidrogen masih memakan biaya lebih mahal dibandingkan opsi baterai-listrik. Pada sektor kendaraan komersial sekalipun, harga truk berdaya hidrogen masih mencatatkan selisih harga yang cukup tinggi dibandingkan truk mesin pembakaran internal maupun truk listrik.

Meski demikian, Hyundai tetap melihat peluang bagi hidrogen dalam ekosistem transportasi masa mendatang, terutama di wilayah yang memiliki sumber daya alam pendukung untuk memproduksi hidrogen bersih dari energi terbarukan.

Pabrikan Lain Pilih Fokus pada Baterai

Strategi Hyundai, Toyota, dan BMW berseberangan dengan sejumlah produsen otomotif global lainnya. Beberapa pabrikan besar memilih memangkas atau bahkan menghentikan total proyek fuel cell mereka agar dapat memfokuskan sumber daya pada pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai.

Mercedes telah menghentikan riset dan pengembangan mobil penumpang berteknologi hidrogen setelah berjalan bertahun-tahun, sementara Honda menyetop produksi seri Clarity Fuel Cell. Volkswagen juga mengambil jarak dari teknologi ini karena menilai sistem baterai-listrik jauh lebih praktis dan efisien untuk mobil penumpang bebas emisi.

Pada 2025, Stellantis memutuskan untuk membatalkan program sel bahan bakar hidrogen sekaligus menghapus rencana peluncuran van komersial hidrogen akibat keterbatasan infrastruktur dan rendahnya kelayakan komersial. Langkah serupa diambil General Motors yang menghentikan pengembangan sistem sel bahan bakar generasi terbaru demi memprioritaskan lini kendaraan listrik baterai.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *