Daftar Isi
Dalam episode ke-150 siniar Tales from the Beat, pemandu acara Ed Garsten mewawancarai pengusaha sekaligus konsultan agensi Tim Kilroy. Percakapan tersebut mengulas bagaimana agensi humas dan pemasaran dapat meningkatkan kinerja melalui pemahaman mendalam tentang klien, audiens, serta fungsi bisnis yang mendorong pertumbuhan.
Latar Belakang Kewirausahaan Tim Kilroy
Kilroy memiliki pengalaman sekitar tiga puluh tahun di bidang penjualan dan pemasaran yang mencakup ritel, penjualan via telepon, pemasaran digital, serta pemasaran tradisional. Perjalanan wirausahawannya dimulai secara tidak sengaja usai kejatuhan dot-com pada Januari 2001, ketika ia kehilangan pekerjaannya di sebuah perusahaan teknologi tidak lama setelah membeli rumah dan menantikan kelahiran anak pertamanya.
Karena kesulitan mencari pekerjaan lain, ia mulai menerima proyek pemasaran lepas yang kemudian berkembang menjadi sebuah agensi berskala besar. Kendati demikian, Kilroy mengaku sempat mengalami kesulitan sebagai CEO karena terlalu terlibat dalam operasional harian perusahaan. Setelah agensi tersebut gagal, ia kembali bekerja, menjadi kepala pejabat pemasaran, mendirikan beberapa agensi tambahan, lalu mengembangkan dan menjual dua di antaranya, termasuk satu ke Tenuity.
Pada 2018, seorang teman meminta bantuannya untuk mengembangkan agensi yang pendapatannya tertahan di kisaran satu juta dolar Amerika Serikat. Dari pengalaman itu, Kilroy menyadari bahwa membantu agensi agar lebih efektif dan menguntungkan adalah bidang yang ingin ia geluti. Fokus utamanya saat ini meliputi membantu agensi mengomunikasikan nilai terbaik, membangun operasional bisnis yang lebih efektif, serta bertumbuh tanpa membuat pemiliknya terbebani.
Metode Agensi WTF dan Peran CEO
Kilroy mengembangkan metode tersebut berdasarkan pengamatannya bahwa para pengusaha sering menghadapi situasi frustrasi akibat salah memahami bisnis, karyawan, atau pelanggan mereka. Metode ini menekankan pemahaman terhadap dua audiens, yaitu audiens internal yang mencakup cara kerja pemilik bisnis serta tanggung jawab yang harus dipertahankan atau didelegasikan, dan audiens eksternal yang mencakup pihak-pihak yang ingin dipengaruhi oleh agensi.
Menurutnya, banyak pemasar lebih memahami audiens klien mereka daripada memahami audiens mereka sendiri. Pendekatan ini mendorong pemilik agensi untuk berhenti memposisikan diri sebagai pelaksana pekerjaan dan mulai mengelola bisnis sebagai sekumpulan fungsi. Sebagai contoh, pengembangan bisnis harus dipandang sebagai sistem masukan dan keluaran untuk menghasilkan target yang diinginkan, bukan sekadar tugas yang dikerjakan sendiri oleh CEO.
Salah satu hambatan terbesar pertumbuhan bisnis adalah ketidakmampuan pendiri untuk melepaskan kendali atas setiap tanggung jawab. Pendiri sering kali terlibat dalam semua keputusan, termasuk meninjau surel karyawan sebelum dikirimkan kepada klien. Kilroy menegaskan bahwa tugas seorang CEO adalah mengelola perusahaan, bukan menjalankan setiap fungsi secara pribadi, yang membedakannya dari peran sebagai kepala bagian penjualan, pelaksana, atau layanan klien.
Hubungan dengan Jurnalis dan Karyawan
Diskusi beralih pada penerapan metode tersebut dalam agensi humas dan hubungan media melalui konsep pengembalian pemahaman, di mana pemahaman yang lebih baik terhadap pihak yang ingin dipengaruhi akan menghasilkan komunikasi yang lebih efektif. Saat menawarkan cerita kepada jurnalis, agensi kerap terlalu fokus pada kisah klien mereka sendiri, padahal jurnalis lebih mementingkan kebutuhan mereka sendiri seperti mencari cerita yang relevan, memenuhi kebutuhan pembaca, serta bekerja secara efisien dengan narasumber.
Profesional humas yang sukses harus memahami kebutuhan jurnalis dan memberikan sesuatu yang membuat pekerjaan mereka menjadi lebih mudah serta berkualitas. Hal ini menuntut hubungan yang terjalin di luar penawaran berita sesaat, termasuk tetap menjaga kontak meskipun tidak ada cerita yang ditawarkan atau ketika jurnalis menolak usulan cerita. Tujuannya adalah membangun hubungan tulus berdasarkan rasa saling menghormati alih-alih memperlakukan jurnalis sebagai target transaksional.
Kilroy berpendapat bahwa pemimpin agensi harus memberi kebebasan kepada karyawan untuk membina hubungan mereka sendiri dengan jurnalis dan media. Ia membedakan karyawan menjadi dua jenis, yaitu pekerja jangka panjang yang menikmati perannya dan pekerja yang berkontribusi, belajar, lalu beralih ke peluang lain. Kedua jenis karyawan tersebut bernilai bagi perusahaan, dan pemimpin disarankan memberdayakan tim untuk berkomunikasi dengan suara mereka sendiri sementara CEO cukup memantau hubungan tersebut.
Dampak Kecerdasan Buatan pada Humas
Garsten memperkuat pandangan tersebut berdasarkan pengalamannya menerima penawaran humas yang kerap tampak dibuat oleh kecerdasan buatan tanpa mencerminkan pemahaman atas minat peliputannya. Sebaliknya, ia mencatat dua agensi yang berhasil membangun hubungan tulus dengan tetap berkomunikasi di luar penawaran berita, sehingga ia lebih mempertimbangkan saat mereka mengirimkan materi. Fenomena ini menunjukkan bahwa jurnalis adalah individu dengan minat spesifik, bukan sekadar audiens tunggal yang didekati dengan pesan seragam.
Percakapan ditutup dengan pembahasan mengenai pengaruh kecerdasan buatan terhadap hubungan media. Masalah terbesar dari komunikasi humas yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan adalah kemampuannya dalam meningkatkan skala komunikasi yang tidak relevan tanpa pertimbangan kelayakan penerima. Kilroy menilai kecerdasan buatan seharusnya diposisikan sebagai penguat, bukan pengganti pemahaman manusia, sebab komunikasi bisnis pada akhirnya bertujuan untuk memengaruhi pola pikir, perasaan, dan tindakan manusia.
Meningkatnya arus komunikasi yang tidak relevan membuat kredibilitas menjadi aset bisnis yang jauh lebih penting karena kredibilitas dapat hancur dengan cepat namun membutuhkan waktu lama untuk dibangun. Pesan utama dari sini adalah bahwa agensi yang sukses berdiri atas dasar pemahaman operasional bisnis, kontribusi karyawan, serta kebutuhan klien dan jurnalis. Di era kecerdasan buatan yang memudahkan produksi konten, kemampuan menunjukkan pemahaman tulus dan menjaga kredibilitas menjadi keunggulan kompetitif yang utama.
Sumber: TheTruthAboutCars







