Daftar Isi
Segmen motor sport-tourer saat ini berkembang pesat dengan menawarkan kendaraan serbaguna yang memadukan pengalaman berkendara ala motor sport dan kepraktisan jarak jauh. Menurut ulasan TopSpeed, masa lalu menyimpan sejumlah mesin cemerlang yang mendahului zamannya namun terlupakan, salah satunya adalah Honda Crossrunner VFR800X.
Konsep Crossover yang Sempat Salah Waktu
Pada masa lalu, motor tipe crossover berada di posisi yang sulit diterima pasar karena memadukan posisi berkendara tegak serta tampilan ala motor petualangan (ADV), tetapi sasis dan bannya disesuaikan khusus untuk aspal. Konsumen kala itu bingung karena motor tersebut tidak dirancang untuk melibas jalur off-road seperti motor ADV murni, sementara pengendara yang mengutamakan performa memilih motor sport dan pencari kenyamanan memilih sport-tourer standar.
Namun, waktu telah mengubah preferensi pengendara yang kini lebih menyukai kendaraan dengan banyak fungsi sekaligus, seperti posisi berkendara tegak, roda khusus jalan raya, serta mesin bertenaga untuk perjalanan jarak jauh. Kondisi ini membuat motor crossover sport-tourer sangat relevan dengan kebutuhan pengendara modern saat ini.
Perjalanan Honda Crossrunner VFR800X
Honda memperkenalkan keluarga crossover pada tahun 2011 melalui model VFR800X Crossrunner yang berbasis dari VFR800F. Generasi pertamanya mendapat kritik karena desain bodi yang dianggap kurang menarik serta sistem VTEC yang belum disempurnakan, sebelum akhirnya Honda merilis generasi kedua dengan desain bersudut tajam serta lampu utama berbentuk huruf X yang lebih segar.
Menurut TopSpeed, mesin V4 berkapasitas 786cc dengan teknologi VTEC menjadi daya tarik utama motor ini karena mampu menghasilkan tenaga 105 horsepower pada 10.250 rpm dan torsi 55,3 pound-feet pada 8.500 rpm. Sistem VTEC membagi karakter mesin menjadi dua mode, yakni di bawah 6.500 rpm untuk torsi putaran bawah yang halus serta efisiensi bahan bakar, dan membuka seluruh katup di atas batas tersebut untuk performa penuh.
Kendati demikian, sejumlah faktor seperti persaingan dari Yamaha Tracer 9 dan Triumph Tiger 800XRx yang lebih murah atau ringan, serta mahalnya biaya produksi mesin VTEC membuat Honda menyetop produksi motor ini. Sasis yang diadopsi dari VFR800F menggunakan rangka diamond pivotless alumunium dan lengan ayun tunggal Pro-Arm, meski berbobot cukup berat mencapai 533 pon.
Kebutuhan Evolusi untuk Bersaing di Era Modern
Agar dapat bersaing dengan Yamaha Tracer 9, Triumph Tiger Sport 800, dan BMW F 900 XR di segmen menengah, VFR800X memerlukan sejumlah perubahan besar. Honda perlu menyederhanakan mesin V4 VTEC yang kompleks dan mahal atau mempertimbangkan opsi mesin V3 dengan kompresor elektrik, serta memangkas bobot kendaraan agar tidak terlalu berat.
Selain pembaruan sasis dan mesin, motor ini juga harus dilengkapi dengan teknologi modern yang belum dimilikinya seperti unit pengukur inersia (IMU) enam sumbu, kendali laju (cruise control), pengendali gas ride-by-wire, ABS serta traksi kontrol saat menikung, dan panel instrumen TFT.
Sumber: TopSpeed






