Pakar kendaraan listrik Bryce Gaton membagikan penjelasannya mengenai berbagai isu mendasar terkait kendaraan listrik (EV) untuk menjawab pertanyaan kelompok siswa sekolah dasar, seperti dilaporkan media otomotif The Driven. Penjelasan tersebut meluruskan pandangan umum seputar jarak tempuh, durasi pengisian daya, dampak lingkungan, hingga dinamika persaingan teknologi antar-pabrikan.
Mitos Jarak Tempuh dan Mekanisme Pengisian Daya
Gaton menjelaskan bahwa anggapan mobil listrik cepat kehabisan daya bermula dari generasi awal EV pada 2010, seperti Nissan Leaf dan Mitsubishi iMiEV, yang hanya memiliki daya jelajah sekitar 120 kilometer. Namun, EV modern saat ini mampu menempuh jarak 500 hingga 700 kilometer dalam sekali pengisian penuh, setara dengan kapasitas mobil berbahan bakar minyak.
Perbedaan utama terletak pada pola efisiensi energi. Mobil bermesin pembakaran dalam justru lebih boros saat berada di kemacetan perkotaan dan lebih efisien di jalan tol. Sebaliknya, mobil listrik jauh lebih efisien di area perkotaan karena hambatan udara yang rendah serta keberadaan sistem pengereman regeneratif yang mengembalikan energi saat kendaraan melambat. Hal ini membuat jarak tempuh EV di dalam kota bisa 10 hingga 15 persen lebih tinggi dari klaim resminya, meski sedikit menurun saat dipacu di jalan tol berkecepatan tinggi.
Mengenai durasi pengisian daya, Gaton menilai proses pengisian EV tidak bisa disamakan dengan pengisian bensin di stasiun pengisian bahan bakar. Pengisian daya EV umumnya dilakukan saat kendaraan terparkir, seperti di rumah pada malam hari. Pengisian lambat dari stopkontak standar dapat menambah jarak tempuh sekitar 150 kilometer dalam waktu 12 jam, sementara pengisi daya khusus di rumah mampu mengembalikan jarak tempuh hingga 600 kilometer dalam semalam.
Untuk perjalanan jarak jauh, pengisi daya cepat arus searah (DCFC) mampu mengisikan daya untuk jarak 100 kilometer hanya dalam hitungan menit. Bahkan, teknologi pengisian kilat dari produsen BYD dilaporkan mampu menambah jarak tempuh 100 kilometer dalam waktu kurang dari satu menit.
Kritik Terhadap Tesla dan Masa Depan Daur Ulang Baterai
Saat menanggapi pertanyaan mengenai Tesla Roadster terbaru, Gaton menilai peluncuran tersebut hanya sekadar trik pemasaran. Fitur penerbangan dan gaya berkendara ekstrem yang dipamerkan dinilai tidak akan diizinkan secara regulasi jalan raya, serta kecil kemungkinan untuk masuk ke jalur produksi massal, serupa dengan nasib Roadster versi 2.0 yang diperkenalkan pada 2017.
Gaton menyebut Tesla mulai kehilangan kepemimpinannya di industri akibat arah kebijakan yang tidak konsisten, seperti fokus pada Cybertruck dan membatalkan proyek mobil murah Model 2. Pabrikan lain seperti Xpeng dengan proyek mobil terbang dan robot, grup Hyundai dan Kia dengan teknologi V2L dan V2G, serta Renault dinilai lebih inovatif dalam mengembangkan teknologi kendaraan masa depan maupun sistem kemudi otonom.
Terkait dampak lingkungan, penggunaan EV secara masif dipastikan dapat menghapuskan emisi gas buang, limbah oli mesin, serta komponen knalpot. Penggunaan pengereman regeneratif juga secara signifikan mengurangi keausan kampas dan piringan rem. Jika daya listrik yang digunakan berasal dari sumber terbarukan, polusi dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil juga dapat ditiadakan.
Mengenai pengolahan limbah, baterai kendaraan listrik berbasis litium memiliki tingkat daur ulang mencapai sekitar 96 persen. Sebelum didaur ulang, baterai bekas masih dapat dimanfaatkan kembali sebagai sistem penyimpanan energi sekunder. Diproyeksikan pada 2050, sebagian besar kebutuhan bahan baku seperti litium dan kobalt dapat dipenuhi dari hasil daur ulang baterai lama tanpa perlu bergantung penuh pada kegiatan penambangan baru.
Gaton mengimbau publik untuk selalu memverifikasi data dan merujuk pada lembaga independen tepercaya seperti Union of Concerned Scientists dan International Council on Clean Transport (ICCT) dalam memahami perkembangan teknologi kendaraan listrik.
Sumber: The Driven







